1000147653.jpg

I’ve never felt this unwanted before’

Kalimat itu muncul ketika aku, adikku, dan ibuku yang biasa ku panggil Mommy harus pindah ke Jakarta secara tiba-tiba. Seakan disambar petir di siang bolong, kebahagiaan yang biasa aku dan adikku rasakan sebagai seorang anak dari keluarga yang ‘harmonis’ hilang begitu saja.

Kami tidak pernah mengira jika pecahan kaca, Daddy yang kerap kali tidak pulang dalam kurun waktu berhari-hari, atau Mommy yang kerap kali terlihat seakan-akan menyiapkan diri untuk pergi jauh adalah tanda bahwa rumah tangga mereka akan segera berakhir. Sepertinya, aku dan adikku yang saat itu masih kecil masih belum bisa menangkap sinyal keretakan rumah tangga dari kedua orang tua kami.

Sepulangnya kami ke Jakarta, tentunya kami dikejutkan dengan banyak hal. Aku bertemu nenek dan kakek yang biasa kami panggil Oma dan Babeh. Biasanya, kami hanya menemui Oma dan Babeh melalui panggilan video lewat ponsel. Namun, kali ini kami harus tinggal bersama mereka.

Sebagai anak sulung, aku cukup terkejut melihat betapa banyaknya beban yang Mommy limpahkan kepadaku. Aku kira, begitu kami sampai di Jakarta, Mommy akan segera mendaftarkan aku kembali ke sekolah formal. Alih-alih bersekolah seperti layaknya anak-anak di usiaku saat itu, aku justru ditinggalkan di rumah bersama Oma, Babeh, dan adikku. Aku yang saat itu belum familiar dengan bahasa, budaya, dan harga di negara asing ini harus menjaga warung dan melayani setiap orang yang datang. Mommy? Pergi entah kemana.

Aku sempat berpikir ketika Mommy bertanya,

Zay, if you need to choose between Mommy and Daddy, who will it be?

Aku memilih Mommy karena aku kira hidupku dan adikku akan lebih baik jika kami lalui bersama Mommy. Namun, nyatanya Mommy justru tidak hadir dalam kehidupan kami menuju dewasa. Oma dan Babeh adalah saksi dari pertumbuhanku dan adikku.

Dengan bantuan Oma, aku bisa menyelesaikan ujian penyetaraan di Indonesia. Namun, Oma tidak bisa mengeluarkan biaya kuliah untukku dengan penghasilannya yang hanya bergantung pada warung. Untuk makan sehari-hari saja sudah susah. Maka dari itu, aku memutuskan mencari pekerjaan dengan ijazahku yang seadanya.